Kamis, 26 Februari 2015

Dakwah Dusta

Ada sebuah kisah cantik yang dikutip oleh Syaikh ’Abdullah Nashih ’Ulwan dalam Taujih Ruhiyah-nya. Kisah menarik ini, atau yang semakna dengannya juga termaktub dalam karya agung Ibnul Qayyim Al Jauziyah yang khusus membahas para pencinta dan pemendam rindu, Raudhatul Muhibbin.

Ini kisah tentang seorang gadis yang sebegitu cantiknya. Dialah sang bunga di sebuah kota yang harumnya semerbak hingga negeri-negeri tetangga. Tak banyak yang pernah melihat wajahnya, sedikit yang pernah mendengar suaranya, dan bisa dihitung jari orang yang pernah berurusan dengannya. Dia seorang pemilik kecantikan yang terjaga bagaikan bidadari di taman surga.

Sebagaimana wajarnya, sang gadis juga memendam cinta. Cinta itu tumbuh, anehnya, kepada seorang pemuda yang belum pernah dilihatnya, belum pernah dia dengar suaranya, dan belum tergambar wujudnya dalam benak. Hanya karena kabar. Hanya karena cerita yang beredar. Bahwa pemuda ini tampan bagai Nabi Yusuf zaman ini. Bahwa akhlaqnya suci. Bahwa ilmunya tinggi. Bahwa keshalihannya membuat iri. Bahwa ketaqwaannya telah berulangkali teruji. Namanya kerap muncul dalam pembicaraan dan doa para ibu yang merindukan menantu.

Gadis pujaan itu telah kasmaran sejak didengarnya sang bibi berkisah tentang pemuda idaman. Tetapi begitulah, cinta itu terpisah oleh jarak, terkekang oleh waktu, tersekat oleh rasa asing dan ragu. Hingga hari itu pun tiba. Sang pemuda berkunjung ke kota si gadis untuk sebuah urusan. Dan cinta sang gadis tak lagi bisa menunggu. Ia telah terbakar rindu pada sosok yang bayangannya mengisi ruang hati. Meski tak pasti adakah benar yang ia bayangkan tentang matanya, tentang alisnya, tentang lesung pipitnya, tentang ketegapannya, tentang semuanya. Meski tak pasti apakah cintanya bersambut sama.

Maka ditulisnyalah surat itu, memohon bertemu.

Dan ia mendapat jawaban. ”Ya”, katanya.

Akhirnya mereka bertemu di satu tempat yang disepakati. Berdua saja. Awal-awal tak ada kata. Tapi bayangan masing-masing telah merasuk jauh menembus mata, menghadirkan rasa tak karuan dalam dada. Dan sang gadis yang mendapati bahwa apa yang ia bayangkan tak seberapa dibanding aslinya; kesantunannya, kelembutan suaranya, kegagahan sikapnya. Ia berkeringat dingin. Tapi diberanikannya bicara, karena demikianlah kebiasaan yang ada pada keluarganya.

”Maha Suci Allah”, kata si gadis sambil sekilas kembali memandang, ”Yang telah menganugerahi engkau wajah yang begitu tampan.”

Sang pemuda tersenyum. Ia menundukkan wajahnya. ”Andai saja kau lihat aku”, katanya, ”Sesudah tiga hari dikuburkan. Ketika cacing berpesta membusukkannya. Ketika ulat-ulat bersarang di mata. Ketika hancur wajah menjadi busuk bernanah. Anugerah ini begitu sementara. Janganlah kau tertipu olehnya.”

”Betapa inginnya aku”, kata si gadis, ”Meletakkan jemariku dalam genggaman tanganmu.”

Sang pemuda berkeringat dingin mendengarnya. Ia menjawab sambil tetap menunduk memejamkan mata. ”Tak kurang inginnya aku berbuat lebih dari itu. Tetapi coba bayangkan, kulit kita adalah api neraka; yang satu bagi yang lainnya. Tak berhak saling disentuhkan. Karena di akhirat kelak hanya akan menjadi rasa sakit. dan penyesalan yang tak berkesudahan.”

Si gadis ikut tertunduk. ”Tapi tahukah engkau”, katanya melanjutkan, ”Telah lama aku dilanda rindu, takut, dan sedih. Telah lama aku merindukan saat aku bisa meletakkan kepalaku di dadamu yang berdegub. Agar berkurang beban-beban. Agar Allah menghapus kesempitan dan kesusahan.”

”Jangan lakukan itu kecuali dengan haknya”, kata si pemuda. ”Sungguh kawan-kawan akrab pada hari kiamat satu sama lain akan menjadi seteru. Kecuali mereka yang bertaqwa.”

Kita cukupkan sampai di sini sang kisah. Mari kita dengar komentar Syaikh ’Abdullah Nashih ’Ulwan tentangnya. ”Apa yang kita pelajari dari kisah ini?”, demikian beliau bertanya. ”Sebuah kisah yang indah. Sarat dengan ’ibrah dan pelajaran. Kita lihat bahwa sang pemuda demikian fasih membimbing si gadis untuk menghayati kesucian dan ketaqwaan kepada Allah.”

”Tapi”, kata beliau memberi catatan. ”Dalam kisah indah ini KITA TANPA SADAR MELUPAKAN satu hal. Bahwa sang pemuda dan gadis melakukan pelanggaran syari’at. Bahwa sang pemuda mencampuradukkan kebenaran dan kebathilan. Bahwa ia meniupkan nafas da’wah dalam atmosfer yang ternoda. Dan dampaknya bisa kita lihat dalam kisah; SANG GADIS SAMA SEKALI TAK MENGINDAHKAN DAKWAHNYA. Bahkan ia makin berani dalam kata-kata; mengajukan permintaan-permintaan yang makin meninggi tingkat bahayanya dalam pandangan syari’at Allah.

Ya. Dia sama sekali tak memperhatikan isi kalimat da’wah sang pemuda. Buktinya, kalimatnya makin berani dan menimbulkan syahwat dalam hati. MULA-MULA hanya mengagumi wajah. LALU membayangkan tangan bergandengan, jemarinya menyatu bertautan. KEMUDIAN membayangkan berbaring dalam pelukan. Subhanallah, BAGAIMANA JIKA PERCAKAPAN DITERUSKAN TANPA BATAS WAKTU?

"KESALAHAN ITU", kata Syaikh ’Abdullah Nashih ’Ulwan memungkasi, "TELAH TERJADI SEJAK AWAL". Apa itu? "MEREKA BERKHALWAT! Mereka tak mengindahkan peringatan syari’at dan pesan Sang Nabi tentang hal yang satu ini".

Ya. MEREKA BERKHALWAT! BERSEPI BERDUAAN. Ya. Sang pemuda memang sedang berda’wah. Tapi meminjam istilah salah seorang Akh yang paling saya cintai dalam ’surat cinta’-nya yang masih saya simpan hingga kini, ini adalah "DAKWAH DUSTA!" Dakwah dusta. Dakwah dusta. Di jalan cinta para pejuang, mari kita hati-hati terhadap jebakan syaithan. Karena yang tampak indah selalu harus diperiksa dengan ukuran kebenaran.

Penulis: Ust. Salim Akhukum Fillah
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Komentar Admin:
Berkhalwat dalam kondisi seperti di atas (ketemua berduaan) memang akan sulit kita jumpai di tengah-tengah para aktivis dakwah saat ini. Bukan karena mereka telah selamat dari fitnah, tapi karena syaitan telah membantu mereka membungkus khalwat tersebut dengan sesuatu yang dianggap biasa saja, yakni berkhalwat via smsan, telponan, chathingan, dan cara lain yang semacam. Disanalah tempat mereka saling bernasihat satu sama lain, namun diiringi dengan candaan-candaan yang membuat pipi memerah jambu, "senyum-senyum tak jelas" kata teman yang berada di sampingnya. Inilah modus baru yg sedang tren belakangan ini. Kita berharap semoga Allah senantiasa menjaga hati-hati kita dari perbuatan-perbuatan yang terlarang, yang justru dapat menjadi sebab dakwah ini tidak mendapat pertolongan dari Allah, tersebab para pengusungnya yang tidak memenuhi syarat sebagai orang-orang yang berhak mendapat pertolongan karena maksiat yang telah Berselimut dlm hati. Semoga Allah mengampuni saya dan kita semua dari perkara2 yg disadari maupun yg tdk disadari ats itu semua.

Na'uudzubillahi min dzaalik.

Rabu, 04 Februari 2015

Bagaimana Cara Jawab Salam Titipan

Misal suatu saat kita dapat salam dari seseorang :

"Mas dapat salam dari ustadz yang tadi khutbah"

Atau

"Teh dapat salam dari ustadzah teteh, katanya hafalan teteh makin bagus"

Biasanya kita jawab :
Iya, Waalaikumsalam (keselamatan senantiasa untuk kalian)

Kalau jawab 'waalaikumsalam'
maka kita hanya mendoakan orang yang menyampaikan

Karena kata 'kum' dalam ilmu nahwu adalah 'dhamir mukhatab' atau kata ganti orang yang ada di hadapan kita, sehingga orang yang menitip salam belum mendapatkan doa dari kita

Bagaimana sih cara jawabnya

Ternyata di zaman Rasul juga ada titip salam lho

“Sesungguhnya ayahku  mengucapkan  salam  kepadamu”. Maka  Nabi  SAW  menjawab, “ ‘Alaika  wa  ‘alaa  abiikas  salaam  (Semoga keselamatan atas kamu dan atas bapakmu)”. [HR, Abu Dawud juz 4, hal. 358, no. 5231] 

Berkata al-Allamah Ibnu Qoyyim rahimahullah, “Di antara petunjuk Nabi Shallallahu alaihi wa sallam adalah apabila seseorang menyampaikan salam kepadanya dari orang selainnya, Beliau menjawab salam orang yang menyampaikan salam tersebut dan orang yang menitipkannya”.

Nah jadi gimana cara jawabnya

Kalau dirinci cara menjawabnya tergantung yang menyampaikan dan yang menitip salam:

⭐ Kalau yang menyampaikan laki2 dan menitip salam juga laki2
Jawab kita :
'Alaika wa 'Alaihis salam =
Semoga keselamatan selalu untukmu(lk) dan untuknya(lk)

⭐Kalau yang menyampaikan laki2 dan yang menitip salam perempuan
Jawab kita :
'Alaika wa 'Alaihas salam =
Semoga keselamatan selalu untukmu(lk) dan untuknya(pr)

⭐Kalau yang menyampaikan perempuan dan yang menitip salam laki2
Jawab kita :
'Alaiki wa 'Alaihis salam
Semoga keselamatan untukmu (pr) dan atasnya(lk)

⭐ Kalau yang menyampaikan perempuan dan yang menitip salam perempuan
Jawab kita :
'Alaiki wa 'Alaihas salam
Semoga keselamatan untukmu (pr) dan atasnya (pr)

Rumus

Untuk mengingat2 , kita rinci ada 3 tahapan :

⭐Siapa yang menyampaikan

Kalau yang menyampaikan laki2 :
'Alaika  = Atasmu (laki2)

Kalau yang menyampaikan perempuan :
'Alaiki  = Atasmu (perempuan)

⭐ Digabung dengan siapa yang menitip salam

Kalau yang nitip salam laki2 :
'Alaihi = atasnya (laki2)

Kalau perempuan
'Alaiha = atasnya (perempuan)

Adapun kata sambungnya :  Wa (dan)

⭐Kemudian tambahkan di belakngnya lafal 'salam' yang artinya keselamatan

Contoh Penggunaan seperti di atas

Boleh ditambahkan 'wa rahmatullahi wa barakatuh' (kasih sayang Allah dan keberkahan) sebagaimana dicontohkan oleh Aisyah ra saat mendapat salam dari malaikat Jibril

Dari Aisyah radliyallahu anha, bahwasanya Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam bersabda kepadanya,

      يَا عَائِشَةُ هَذَا جَبْرِيْلُ يَقْرَأُ عَلَيْكِ السَّلَامَ فَقَالَتْ: وَ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ تَرَى مَا لَا أَرَى –تريد النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم

            “Wahai Aisyah, ini Jibril menyampaikan salam kepadamu”. Aisyah berkata, “Salam juga untuknya, rahmat dan berkah Allah semoga dilimpahkan kepadanya. Engkau dapat melihat perkara-perkara yang tidak dapat aku lihat –yang dimaksud adalah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam-“. [HR al-Bukhoriy: 3217, 3768, 6201, 6249 Muslim: 2447, Abu Dawud: 5232 dan at-Turmudziy: 2846]

Di dalam musnad al-Imam Ahmad terdapat tambahan , Aisyah radliyallahu anha berkata,

      فَقُلْتُ: وَ عَلَيْكَ وَ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

‘Aku menjawab, “Salam pula untukmu (yaitu Rasululullah shallahu alaihi wa sallam) dan semoga salam, rahmat dan berkah Allah Azza wa Jalla dilimpahkan untuknya”. [HR Ahmad: VI/ 117].

Semoga bermanfaat

Selasa, 03 Februari 2015

Gangguan Jin Penghuni Kamar Mandi Dan WC


Banyak orang yang bercerita tentang gangguan jin di dalam kamar mandi dan WC,

Hal demikian pernah terjadi sekitar tahun 2002 di desa saya, saat itu saya masih duduk di bangku kelas 5 SD, dulu pernah ramai berita tentang orang yang meninggal setelah seminggu dia melihat penampakkan makhluk tinggi besar di kamar mandi, saking takutnya melihat sosok tinggi besar tersebut, ia menjadi seperti orang stress, mengurung diri, dan tidak mau makan, hingga akhirnya datanglah ajalnya di hari ke tujuh. (wallahu a'lam)

Ada pula orang yang tidurnya di bak mandi,
ada yang sangat takut jika masuk kamar mandi hingga ia membiarkan pintu kamar mandi terbuka lebar saat buang hajat, dan ada beberapa kasus lain yang mungkin tidak bisa diterima oleh akal sehat kita…

Sebagian dari mereka banyak yang bertanya, "Bagaimana bisa kita berdoa saat diganggu jin di kamar mandi ? Sedangkan berdoa di dalam kamar mandi kan dilarang !?"

Nah, dari sinilah saya ingin menuliskan bagaimana solusi pembentengan diri dan penyembuhannya sekaligus mengenalkan apa saja ciri-ciri orang yang sudah terkena gangguan jin jenis ini.

Insya Allah sahabat-sahabatku yang shaleh dan shalehah sudah tahu kan bahwasannya kamar mandi itu adalah tempat favorit bangsa jin kafir dan fasiq, mereka sangat hobi berada ditempat-tempat yang najis, bau, dan kotor.

Maka dari itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menganjurkan setiap ummatnya untuk membaca do'a sebelum memasuki kamar mandi, doanya adalah ; "Allahumma inni a'udzu bika minal khubutsi wal khobaaits…"
"Aku berlindung kepada Allah dari gangguan jin laki-laki dan jin wanita yg jahat.."

Setelah membaca do'a perlindungan di atas, hendaknya kita menjaga adab-adab masuk kamar mandi.

Diantara adab-adab memasuki kamar mandi atau WC adalah :
1.Memasukinya dengan kaki kiri dan keluar dengan kaki kanan

2.Jangan masuk kamar mandi dengan keadaan gelap, kecuali memang sedang mati lampu

3.Jangan berbicara di kamar mandi (kecuali mendesak dan terpaksa)

4.Jangan menyanyi, jangan teriak-teriak di kamar mandi

5.Jangan menangis di kamar mandi (biasanya anak pondok yang gak betah nih, hehe)

6.Jangan melihat aurat berlebihan di cermin

7.Jangan telanjang saat sebelum masuk kamar mandi atau sesudah keluar, ini nasehat untuk ikhwan yang kebiasaan keluar masuk kamar mandi dengan membiarkan auratnya terbuka

8.Jangan membuang air panas di lubang-lubang kamar mandi ketika menjelang malam

9.Pujilah Allah setelah keluar dari kamar mandi, bacalah do'anya : "Ghufraanak"

TANDA-TANDA KORBAN :
1.Orang yang diganggu selalu ingin pergi ke kamar mandi banyak-banyak tanpa ada hajat

2.Keinginan untuk selalu berada di kamar mandi dengan waktu yang lama tanpa ada hajat

3.Sangat suka berada di kamar mandi dengan keadaan gelap gulita

4.Sangat suka berada di tempat yang kotor, bau, dan najis

5.Tampak bercak-bercak biru atau merah di badan korban tanpa ada sebab

6.Merasakan pegal dan sakit yang sangat di daerah tulang ekor

7.Meremehkan penampilan dan pakaiannya

8.Sangat benci dengan wewangian, maunya yang bau-bau seperti Patrick yang ada di Spongebob hehe…

PENGOBATAN :
Dudukkan korban di luar kamar mandi yang pintunya dibuka lebar.
Bacalah ayat kursi, al-humazah, al-zalzalah, al-ikhlas, al-falaq, dan annaas 3 kali atau lebih
Lalu isyaratkan jari menuju kamar mandi dengan membacakan surat al-Buruj dan al-Qalam sebanyaknya dan semampunya.

Apabila gangguannya selalu ditampakkan jin di kamar mandi, sarankan untuk membaca ayat kursi, al-ikhlas, al-falaq, dan annaas masing-masing 3 kali di luar kamar mandi, berdoalah di dalam hati agar Allah melindungi dirimu dan agar jin fasiq tersebut ditundukkan oleh Allah Ta'ala, masuk dengan kaki kiri dan jagalah adab-adab yang sudah dituliskan di atas, insya Allah akan kembali normal lagi dengan izin Allah 'Azza wa Jalla, apabila masih diganggu, siramkan air yang sudah diruqyah ke tempat yang biasanya dia menampakkan diri, dan bisa jadi itu timbul karena sihir ilusi yang di

Minggu, 01 Februari 2015

Kita Orang Baik atau Allah Tutupi Aib Kita?


Ustadz Salim A Fillah dalam sebuah acara di masjid Sunda Kelapa pernah bercerita tentang orang-orang yang berjuang move on dari berbagai ujian yang datang kepada mereka. Beliau bercerita tentang Nabi Yusuf a.s.

Di tengah-tengah cerita, beliau bertanya kepada jama'ah, "Siapa nama perempuan yang menggoda Nabi Yusuf?"

"Zulaikha," jawab jama'ah kompak.

"Dari mana tahunya bahwa nama perempuan itu Zulaikha? Allah tidak menyebutnya dalam Qur'an."

Reflek jama'ah menjawab, "Dari hadits."

Hadits mendukung kisah yang ada dalam Qur'an dengan lebih detil.

"Mengapa Allah tidak menyebut nama Zulaikha dalam Qur'an?"

Semua jama'ah diam. Ustadz Salim melanjutkan penjelasannya.

"Karena perempuan ini MASIH MEMILIKI RASA MALU. Apa buktinya bahwa ia masih memiliki rasa malu? Ia menutup tirai sebelum menggoda Yusuf. Ia malu dan tidak ingin ada orang lain yang tahu tentang perbuatannya. Dan Allah menutupi aib orang-orang yang masih memiliki rasa malu di hatinya, dengan tidak menyebut namanya dalam Qur'an."

Betapa Allah Maha Baik. Tak hanya sekali, namun berulang kali Allah menutup dosa-dosa kita. Hanya karena masih memiliki rasa malu, Allah tidak membuka identitas kita.

Pernahkah ada seseorang yang nampak baik di hadapan orang lain?

Apakah semua karena begitu banyaknya kebaikan yang dilakukan orang itu?

Atau karena Allah telah menutupi aib orang itu?

Mungkin ada yang mengganggap saya, kamu, kita adalah orang yang baik.

Jika saja mau jujur, sungguh... itu bukan karena kebaikan kita. Itu semata karena Allah masih menutupi segala aib kita. Jika tidak, maka habislah kita. Terpuruk, seterpuruk-terpuruknya. Malu, semalu-malunya. Hina, sehina-hinanya. Seperti tak ada lagi tempat tersedia untuk menerima kita.

Kita harus berusaha menutupi aib orang lain sebagaimana Allah yang Maha Baik telah menutupi aib kita selama ini.

Mari berdoa seperti yang dicontohkan sahabat Abu Bakar Ash Shiddiq r.a,

"Ya Allah, jadikan diriku lebih baik dari sangkaan mereka. Janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah aku lantaran ketidaktahuan mereka.

Siapakah Orang Yang CERDAS?

Orang yg cerdas adlh org yg MAU BELAJAR
Dia pandai melihat KEBAIKAN2 org lain disela2 KEBURUKANNYA
Dia tahu dgn belajar dari kebaikan2 org tsb, maka hal itu MANFAAT
Jika dia asyik melihat keburukan2 org tsb maka hal itu akan menjadi RACUN bagi dirinya.

Orang yg menggunakan KACAMATA HITAM maka apapun yg dilihatnya akan “terlihat gelap”
Jadi utk mengukur hati ini… jika kita melihat sgala sesuatu “jelek melulu” maka jangan2 diri kitalah “biangnya jelek”
Shg org yg cerdas akan sibuk INTROSPEKSI DIRI, sibuk BERTOBAT dgn sungguh2
Sibuk belajar KEBAIKAN2 dari siapapun, kapanpun & dimanapun juga
Karena Allah Ta’ala… Maha Kuasa utk sampaikan kebaikan2 lewat siapa saja, kapan saja dan dimana saja

Org yg cerdas melupakan 2 hal dan mengingat 2 hal:
Dia lupa kebaikan dirinya kpd org lain & dia lupa keburukan org lain pd dirinya
Dia ingat keburukan dirinya pd org lain & dia ingat kebaikan org lain pd dirinya

Org cerdas paham pentingnya agama dan paham hidup bukan hanya di dunia ini saja… ada kehidupan abadi kelak
Shg dia memandang kehidupan dunia ini sbg INVESTASI utk kehidupan akhirat yg abadi
Menjadikannya dirinya BERMANFAAT bagi dirinya dan sebanyak2nya orang lain
Menjaga silaturrahim (relationship) dengan menjaga KESATUAN HATI & PIKIR
Dia mudah utk meminta maaf dan juga mudah utk MEMAAFKAN kesalahan orang lainlain

Orang cerdas akan menjaga suasana dirinya, lingkungannya dan pergaulannya

Ibarat KUMBANG… sekalipun berada dalam lautan sampah… dia tetap mencari & hinggap di bunga-bunga…
Tdk seperti LALAT… sekalipun berada dalam lautan bunga… dia tetap mencari & hinggap di tempat2 yg kotor…

Org cerdas akan menjaga lisannya, pandangannya, pikirnya, hatinya, dirinya agar slalu dlm kebaikan
krn dirinya paham, jika dirinya buruk bukan hanya dirinya saja yg beroleh akibat tp juga org disekitarnya & byk org lain

Org cerdas tahu akan kelemahannya dan terus memperbaikinya, dia tdk mau SOMBONG dgn kelebihannya krn hal itu akan buat dia CELAKA
Orang buta celaka bukan krn TDK MELIHAT tapi krn TDK MAU MENDENGAR
Seringkali orang celaka bukan krn KELEMAHAN yg disadarinya… namun oleh KELEBIHAN yg di-SOMBONG-kannya.

Org cerdas sibuk BERSYUKUR bukannya sibuk MENGELUH…dia sibuk berTOBAT bukannya sibuk MAKSIAT
Dia tdk mau jadi orang yg hanya pandai meng-KRITIK...
Tapi dia berusaha utk jadi orang yg pandai MEMPERBAIKI...
memperbaiki diri, keluarga, lingkungan, dan sebanyak2nya org lain… menyebarkan kasih sayang krn Allah & RasulNya… menjadi “Khoirun nas ‘anfa uhum lin nas” menjadi org yg BERMANFAAT bagi sebanyak2nya org lain…

Mulailah dari diri sendiri, sekarang dan mulailah dari yg mudah/kita anggap sepele…krn sesungguhnya tdk ada amalan manusia yg kecil, amalan manusia dnilai besar bahkan oleh Allah Ta’ala yg Maha Besar shg tak ada satupun amalannya yg tdk tercatat oleh Malaikat dan takkan ada satupun ucapan + perbuatannya yg tdk diketahuiNya…

Smoga tulisan ini menjadi asbab Hidayah bagi kita smua…krn Allah Maha Kuasa utk sampaikan kebenaranNya bisa lewat siapa saja..kapan saja…dan dimana saja…
Dan jika ada yg salah…maka maafkanlah krn diri ini gudangnya khilaf & dosa…

Amal Gacoan

Masih ingat kisah seorang sahabat yang dikabarkan Rasulullah masuk surga karena setiap malam sebelum tidur dia selalu memaafkan kesalahan orang-orang yang berbuat salah kepadanya?

Masih ingat kisahnya Bilal bin Rabbah , dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Imam Bukhari, “Rasulullah berkata kepada Bilal, “Ceritakanlah kepadaku amal apa yang amat engkau harapkan dalam Islam, sebab aku mendengar suara kedua sandalmu di surga?” Bilal menjawab; “Tidak ada amal ibadah yang paling kuharapkan selain setiap aku berwudhu baik siang atau malam aku selalu shalat setelahnya sebanyak yang aku suka”

Masih ingat kisah seorang Wanita yang sudah bertahun-tahun dikubur namun jasad dan wajahnya tampak seperti baru dikuburkan. Bahkan dengan senyuman yang sangat berseri di wajahnya. Ketika ditanyakan kepada ibunya, apa yang telah dilakukannya selama hidup di dunia, sehingga mendapatkan kemulian tersebut. Amal istimewa yang selalu dilakukan selama hidupnya adalah tilawah Qur’an setiap habis sholat meskipun hanya sebentar.

Ada juga cerita seorang akhwat, yang terkena bencana Tsunami di Aceh saat sedang mengisi dauroh di sebuah kampus ternama di Aceh. Jasadnya tidak rusak, bahkan pakaiannya masih utuh tanpa ada yang robek. Padahal kebanyakan orang yang meninggal di lokasi yang sama dengannya mengalami luka-luka yang mengerikan. Ibu ini adalah seseorang yang senantiasa menjaga auratnya semenjak berusia baligh sampai dia meninggal dunia.

Masih dari Aceh,saat proses pencarian korban tsunami. Relawan- relawan yang setiap hari tugasnya berhadapan dengan mayat-mayat yang setengah membusuk, hancur dan bau dikarenakan lama terendam di air dan tertimpa reruntuhan bangunan, suatu hari mencium bau yang sangat wangi. Mereka penasaran darimana sumber bau wangi itu diantara bau busuk dari mayat-mayat yang lain. Bau wangi ini terasa sangat istimewa, seakan-akan jadi penghibur bagi mereka yang bertemankan dengan bau-bau yang menusuk hidung. Setelah lama berusaha mencarinya,mereka akhirnya menemukan sumber bau yang istimewa itu, ternyata dari salah seorang korban tsunami.

Tapi mayat ini amat istimewa, selain mengeluarkan bau yang wangi, jasadnya tidak rusak sedikitpun. Bahkan wajahnya dihiasi dengan senyuman kebahagiaan. Karena istimewanya mayat ini, para relawan memutuskan untuk tidak menguburkan jenazahnya di kuburan massal seperti mayat-mayat yang lain. Mereka berusaha mencari identitas korban dengan mengumumkan penemuan jenazah tersebut kepada masyarakat. Ternyata ada anggota keluarga yang mengenali jenazah tersebut dan membawa pulang jenazahnya untuk dikuburkan secara layak. Namun, sebelum anggota keluarga membawa pulang jenazah tersebut, relawan-relawan yang penasaran bertanya, apa yang telah dilakukan oleh jenazah tersebut selama hidup didunia”?. Anggota keluarganya menjelaskan, bahwa jenazah tersebut adalah seorang hafidzah yang istiqomah menjaga hafalannya. Memuraja’ah hafalannya setiap hari.

Belajar dari beberapa cerita diatas,hendaknya kita juga memiliki amalan istimewa yang konsisten kita lakukan setiap harinya. Kemuliaan mereka terlihat dari konsistennya mereka menjaga amalnya. Meskipun terkesan sederhana, tapi tidak banyak orang yang konsisten dan mampu melaksanakannya.

Merekalah orang-orang pilihan yang memiliki keunikan dan keunggulan dibandingkan yang lain.

Sesungguhnya surga itu memiliki banyak pintu, dan setiap orang akan memasuki pintu-pintu tersebut sesuai amal terbaiknya atau amal unggulannya selama hidup. Meskipun kita juga memiliki kesempatan memasuki surga melalui semua pintu seperti Abu Bakar As Shiddiq, tapi yang paling penting adalah kita harus mempersiapkan amal terbaik kita dihadapan Allah SWT, untuk selanjutnya kita serahkan kepada Allah untuk menilainya sembari kita memohon kepada Allah agar memasukkan kita kebarisan orang-orang yang mendapatkan kemuliaan JannahNya.

Dalam 24 jam waktu kita, begitu banyak ibadah yang bisa menjadi amalan unggulan kita.
Misalnya :
1. Sholat berjamaah tepat pada waktunya,
2. Bersedekah setiap harinya,
3. Berwudhu sebelum tidur/ selalu menjaga wudhu dalam keadaan dan kondisi bagaimanapun ,
4. Puasa senin-kamis,
5. Selalu mengucapkan salam saat bertemu dengan saudara seiman, selalu tersenyum dan berwajah ceria saat bertemu orang lain,
6. Tilawah Qur’an setiap habis sholat, menghafal Qur’an walau cuman seayat habis sholat
7. Memakai pakaian terbaik saat sholat,
8. Selalu mengucapkan hamdallah ketika mendapatkan nikmat Allah SWT dan sebagainya.

Allah mencintai amal yang kita lakukan secara konsisten (terus menerus) meskipun sedikit. Maka milikilah amalan istimewa yang hanya dirimu dan Allah saja mengetahuinya. Kerjakanlah secara konsisten walaupun amalan tersebut sederhana.