Senin, 26 Januari 2015

Diskusi

Pertama-tama kali yang harus diperhatikan ketika kita ingin berdiskusi atau berdebat adalah siapa partner debat atau diskusi kita,

karena partner debat/diskusi seharusnya seseorang yang memang menginginkan dan mencari kebenaran, bukan hanya menyenangi debat atau menjadikan debat untuk memperolok-olok agama Islam

“Tidak ada satu kaum yang tersesat setelah mendapat petunjuk, melainkan karena mereka suka berdebat” Kemudian Rasulullah saw membaca ayat: “Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar. [QS Az-Zukhruf [43]: 58]” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

Selain itu, tidak semua manusia yang diseru dengan ayat-ayat al-Qur’an akan bertambah keimanannya, Allah memperingatkan bahwa ada juga yang justru bertambah kekafirannya ketika dibacakan ayat-ayat Allah. Maka ayat Allah tidak layak dibacakan untuk orang setipe ini.

Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir
(QS at-Taubah [9]: 125)

Dan bila sudah kita pastikan bahwa partner diskusi kita adalah termasuk orang munafik ataupun kafir yang memang bukan mencari kebenaran dalam debat dan diskusi, maka segeralah meninggalkan orang yang semacam ini lalu beristighfar pada Allah karena kita telah melakukan hal yang tidak bermanfaat.

Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang lalim itu sesudah teringat (akan larangan itu)
(QS al-An’am [6]: 68)

Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam
(TQS an-Nisaa [4]: 140)

Maksud “duduk bersama/beserta” adalah berada dalam suatu forum, sehingga seolah-olah dengan adanya kita disitu menjadi legitimasi dalam proses memperolok ayat-ayat Allah.

Imam asy-Syafi’i sendiri berkata perihal berdebat dengan orang semacam ini:

“Aku tidak mendebat ahli kalam kecuali sekali. Dan setelah itupun aku beristighfar kepada Allah dari hal itu”.

Sedangkan Imam Malik berkata:

“Termasuk merendahkan dan meremehkan ilmu jika seseorang membicarakan ilmu di hadapan orang yang tidak mentaati ilmu itu”.

Dan al-Auza’i juga menyampaikan:

“Jika Allah menginginkan kejelekan pada satu kaum, maka Allah akan membuka atas mereka jidal, dan menghalangi mereka dari beramal.”

Daripada melayani orang semacam ini lebih baik kita beramal shalih. Ingat, meghabiskan waktu 30 menit untuk mendebat orang semacam ini berarti kita membuang kesempatan untuk berdakwah selama 30 menit kepada orang yang mau mendengarkan. Lebih baik beramal daripada mendebat orang yang tidak ingin mencari kebenaran.

(Felix)

Jumat, 23 Januari 2015

Beriman dan Berilmu

Dan diantara cara yang paling baik untuk mengisi waktu dan mengangkat derajat seseorang adalah dengan menghafal Al-Qur'an, mengulanginya, serta mentadabburinya, karena ia adalah perbendaharaan yang mahal dan perniagaan yang menguntungkan, Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda : .
أفلا يغدو أحدكم إلى المسجد فيعلم، أو يقرأ آيتين من كتاب الله عز وجل، خير له من ناقتين، وثلاث خير له من ثلاث، وأربع خير له من أربع، ومن أعدادهن من الإبل
.
Artinya : tidakkah pergi seseorang diantara kalian ke mesjid sehingga ia mempelajari, atau membaca dua ayat dari kitabullah azza wa jalla, lebih baik baginya dari dua ekor unta betina, dan tiga ayat lebih baik baginya dari tiga ekor unta, dan empat ayat lebih baik baginya dari empat ekor unta, dan lebih dari empat ayat lebih baik dari jumlahnya dari unta. (HR.Muslim).
.
Maka barang siapa yang dapat menghafal Al-Qur'an maka ia akan mulia, siapa yang membacanya akan terangkat, siapa yang dekat dengannya akan agung kedudukannya , dan kedudukan seorang hamba di surga adalah pada ayat terakhir yang ia baca, dan di zaman fitnah dan terbukanya pintu syubhat dan syahwat maka berpegang teguh dengan kitabullah menjadi lebih harus dan mendekat dengannya semakin wajib.
.
Juga membekali diri dengan ilmu syar'i dengan cara menghadiri majlis-majlis dzikir dan hafalan hadit-hadits Nabi serta matan-matan ilmu syariah merupakan ketinggian derajat bagi seorang muslim Allah ta'ala berfirman :
.
(يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ)
.
Artinya : Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara Kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (QS.Al-Mujadilah : 11). .
Berkata Imam Malik -semoga Allah merahmatinya- : "sebaik-baik amalan sunnah adalah : menuntut ilmu dan mengajarkannya", dan dengan ilmu akan bersinar martabat seseorang sekalipun ia telah meninggal.

Kamis, 22 Januari 2015

Karena dakwah kita berharga

Salam takzim tuk semua kader yang dengan kesadaran penuh dan iman yang dalam telah berkontribusi pada dakwah ini. Atmosfer kebaikan ini semoga terus berlanjut. Menjadi tradisi yang abadi.

Kesadaran akan berkontribusi dalam jamaah tuk dakwah adalah sebuah bukti kerja iman di hati kita. Tanpa harus berdebat panjang. Tanpa harus saling membebankan. Tanpa harus berobsesi pada sebuah kemuliaan di mata manusia.

Semua kontribusi itu dibingkai dalam sebuah perencanaan matang agenda besar jamaah. Dalam sebuah sistem atau manhaj yang telah ditetapkan. Semua bagian dari sistem. Tidak boleh seorangpun merasa lebih besar dari sebuah sistem.

Karena saat seorang kader merasa lebih besar dari sebuah sistem, maka yang terjadi adalah sebuah bencana dakwah. Penyakit dakwah berupa "cinta pd eksistensi diri" akan merusak tatanan yang sudah digariskan.

Saat kita semua mau dengan rendah hati bekerja dalam sebuah sistem maka yakinlah narasi narasi besar tentang Islam yang kita usung akan menjadi kasat mata. Narasi-narasi itu akan membentuk cerita keajaiban dalam dunia nyata.

Maka jika hari ini kita masih enggan berkontribusi dengan alasan apapun, maka selayaknya kita malu pada kisah semangat bocah kecil yang ingin ikut berjihad tidak diizinkan Rasul SAW karena tubuh kecilnya dan ia pun harus berpura pura tinggi agar diizinkan ikut berjihad.

Maka jika hari ini kita masih enggan berjamaah dengan alasan apapun, maka selayaknya merenung dengan kisah Abuzar Al-Ghiffary yang dengan segala kelemahannya, tetap menyusul dan membersamai pasukan perang yang dipimpin Rasul SAW saat dia tertinggal jauh karena keledainya begitu lemah tuk dipacu.

Maka jika hari ini kita masih asyik dengan urusan dunia kita dan melalaikan kewajiban dakwah dan berjamaah, cukuplah kematian yang menjadi nasehatnya.

Allahu `alam

sumber: dakwatuna.com

Engkau Sahabat Sejatiku

Imam Syafi'i berkata:

"Jika engkau punya teman  yang selalu membantumu dlm rangka ketaatan kepada Allah- maka peganglah erat-erat dia, jangan pernah kau lepaskannya. Karena mencari teman -baik- itu susah, tetapi melepaskannya sangat mudah sekali"
Sahabat fillah luangkanlah waktu sejenak untuk membaca hadits yg mulia berikut ini....!!!

Diriwayatkan bahwa :
Apabila penghuni Syurga telah masuk ke dalam Syurga, lalu mereka tidak menemukan Sahabat2 mereka yang selalu bersama mereka dahulu di dunia.

Mereka bertanya tentang Sahabat mereka kepada اللّهُ سبحانه و تعالى ..

"Yaa Rabb...
Kami tidak melihat Sahabat2 kami yang sewaktu di dunia shalat bersama kami, puasa bersama kami dan berjuang bersama kami...??

"Maka اللّهُ سبحانه و تعالى berfirman:
"Pergilah ke neraka, lalu keluarkan Sahabat2mu yg di hatinya ada Iman walaupun hanya sebesar zarrah."
(HR. Ibnul Mubarak dalam kitab "Az-Zuhd").

Al-Hasan Al-Bashri berkata:
"Perbanyaklah Sahabat2 mu'minmu, karena mereka memiliki Syafa'at pada hari kiamat".

Ibnul Jauzi pernah berpesan kepada Sahabat2nya sambil menangis:

"Jika kalian tidak menemukan aku nanti di Syurga bersama kalian, maka tolonglah bertanya kepada اللّهُ تعالى  tentang aku:

"Wahai Rabb Kami...
Hamba-Mu fulan, sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang ENGKAU..
Maka masukkanlah dia bersama kami di Syurga-Mu"

Sahabat fillah
Mudah-mudahan dengan ini, aku telah  Mengingatkanmu tentang اللّهُ تعالى ..
Agar aku dapat besertamu kelak di Syurga & Ridho-Nya..

Yaa Rabb...
ْAku Memohon kepada-Mu.. Karuniakanlah kepadaku
Sahabat2 yang selalu mengajakku untuk Tunduk Patuh & Taat Kepada Syariat-Mu..

Kekalkanlah persahabatan kami hingga kami bertemu di Akhirat dengan-Mu

Rabu, 21 Januari 2015

Sosmed untuk dakwah

Buat teteh-teteh dan aa’-aa’, yuk ah sudahi aktivitas merugikan di mana saja, khususnya di jejaring sosial. Sudahi komunikasi-komunikasi yang menimbulkan perasaan berbunga-bunga antar lawan jenis. Meski awal-awalnya hanya sekadar saling sapa, dengan niatan iseng. Bisa jadi, aktivitas tersebut malah menyeret teteh dan aa’ menuju jurang maksiat. Naudzubillahiminzalik.

Nggak ada salahnya, kita memliki banyak sosmed. Apalagi kalau kita bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang dalam hal kebaikan, dan menyeru pada jalan yang benar. Meski masih muda, nggak ada salahnya kan kita bercuap-cuap tentang pemahaman Islam? Ingat, sampaikanlah meski
hanya satu ayat.

Tapi, peringatan besar untuk kita semua. Ilmu
yang kita sebarkan di sosial media, jangan sampai diniatkan untuk eksistensi diri, atau yang lebih parahnya, mau pamer bahwa sekarang kita udah berubah jadi alim. Harus kita luruskan kembali niat kita, bahwa pos-pos kita yang berbau dakwah,
semata-mata untuk tabungan di akhirat, dan murni keikhlasan karena ingin meraih ridho Allah Ta’ala.

Tidak perlu takut cibiran-cibiran teman-teman kita yang negatif. Misalnya; “Ah, Lo kalo udah busuk, busuk aja sih…”, “Sok alim, Lo!”, dan lain sejenisnya. Apalagi, takut kalau followers menurun. Bro en Sis, untuk melakukan sebuah perubahan yang menyeru kepada kebaikan itu, akan banyak sekali rintangannya. Nah, yang mesti kita lakukan, cukup bersabar dan menyerahkan segalanya kepada Allah. Lebih baik lagi, kalau kita bisa memberikan pemahaman kepada mereka secara ma’ruf, bahwa kita memang sudah berubah menjadi lebih baik. In sya Allah, lama-lama mereka akan terbiasa dengan timeline-nya yang disesaki dengan postingan kita tentang kebenaran.

Untuk Mama dan Papa, yang dulunya hobi banget galau tentang rumah tangganya. Jangan lagi-lagi deh! Bagi orang tua yang melek komunikasi seperti ini, sip banget kalau kemampuannya ini dijadikan sebagai media dakwah. Banyak lho, ustadz wa ustadzah yang cuap-cuap tentang keislamannya di sosmed, meski mereka sudah berumur. Jangan mau kalah sama yang lebih muda, dalam urusan menyebarkan kebaikan di mana saja Mama dan Papa berada. Yuk, yang punya ortu super update, tapi masih hobi pos-pos yang kurang bermutu, kasih tahu deh supaya sosmednya bisa menjadi salah satu media, untuk mengisi tabungan di akhirat. Jangan sampai deh, kita menjadi salah seorang yang menyebarkan keburukan dan menjadikan orang lain terinspirasi dengan keburukan yang kita bagikan. Statusmu, Harimaumu. Roar!

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Tentu saja kita sangat mengapresiasi saudara-saudari kita yang tengah turut andil dalam penggunaan sosial media, dengan baik dan benar. Apalagi, buat kakak-kakak yang menjadikan followers-nya sebagai ladang dakwah. Tepuk tangan! Prok prok prok prok prok…

Banyak kok, yang awalnya ia adalah remaja yang biasa-biasa saja, namun karena getol menyebarkan kebaikan di sosial media, akhirnya menjadi remaja yang luar biasa. Misalnya, yang tadi niatnya cuma sekadar bikin note di Facebook, dengan isi tulisan karya sendiri yang memberikan manfaat luar biasa di dalamnya, akhirnya dilirik penerbit untuk mengumpulkan tulisan-tulisannya, dan menjadikannya sebagai buku best sellers yang berisi kalimat-kalimat motivasi, kumpulan cerita pendek, kumpulan puisi, dan semacamnya.

Bisa juga nih, buat kamu-kamu yang hobinya nge-desain, oke banget kalau karya-karya desain kamu berisikan gambar atau tulisan yang menyeru kepada kebaikan. Tentu saja, harus sesuai dengan standar bagaimana desain islami yang diperbolehkan dalam Islam. Jangan sampai, karena banyaknya viewers , atau permintaan konsumen, malah menjadikan kamu mendesain makhluk hidup yang sangat mirip dengan aslinya. Meski pesan-pesan di dalamnya mengusung pada kebaikan, bisa jadi, karya kamu yang satu ini malah menghasilkan dosa. Kan bisa gawat.

Nah, buat Bro en Sis yang udah sukses di dunia dengan penghasilan yang dihasilkan dari karyanya sendiri, jangan sampai lupa juga dengan kehidupan akhiratnya ya. Jangan mentang-mentang berasumsi bahwa karyanya berbau
dakwah, jadi lupa bahwa ada kewajiban lain di luar dunia maya. Membantu orang tua, misalnya. Jangan sampai, karena keasyikan di depan gadget, jadi lupa dengan kewajibannya sebagai anak yang sholih wa sholihah. Lebih gawat lagi kalo sampai lupa bahwa punya kewajiban mendirikan sholat, menggali ilmu Islam lebih dalam, mengaji al-Quran, dan sebagai pelajar kita juga wajib belajar.

Yuk ah, kita tengok lagi jejaring sosial kita, sudahkah digunakan untuk menyebarkan kebaikan? Sudahkah memberi ‘nikmat’ atau justru malah menjadi ‘kiamat’ bagi diri kita sendiri dan orang lain? Jawabannya ada pada sikap kamu
setelah membaca tulisan ini.

Artikel : http://www.gaulislam.com/sosmed-nikmat-atau-kiamat

Senin, 19 Januari 2015

Berjanji untuk Saling Menunggu, Bolehkah?


"Sy suka pd seorg akhwat & sdh pernah menyatakan perasaan sy.
Ternyata ia pun memendam rasa yg sm. Sy ingin menikahinya tp nanti saat sy sdh lulus & sdh punya pekerjaan. Ia pun sm ingin menikah setelah lulus kuliah sekitar 2,5 tahun lg."

Sahabatku, sadarlah banyak diantara kita yg tak sabar atau bahkan takut jika org yg kita cintai nanti menikah dgn yang lain.

Atau ada jg yg ingin memiliki namun belum siap menikahi. Ujungnya adl memberi harapan yg belum pasti, memberi janji yg malah membebani.

Pertanyaannya,
"Mampukah selama penantian itu kau bisa menjaga hati, pandangan & perasaanmu agar tak terjerumus pd zina hati, pikiran dan perasaan?"

Satu lg,
"Bisakah kau & dia menjaga kesetiaan pada-Nya, padahal dlm rentang waktu itu bisa jadi ada lelaki yg lebih soleh dan mapan darimu yg siap melamarnya, atau sebaliknya bisakah kau tetap setia menunggunya dgn keterbatasan komunikasi dan tempat, sedangkan di hadapanmu ada wanita yg lebih solehah dan menarik hati?"

Kawan, seringkali karena 'keterbatasan pikiran', kita mengganggap ialah yg terbaik dan mesti menjadi jodoh. Padahal bisa jadi ada jodoh yg lebih baik yg telah DIA siapkan utkmu.

Bukankah Jodoh, mati dan rezeky di tangan Allah..?
Lantas hal apa yg membuatmu ragu? :)

Maka, tugas kita jika belum siap menikah adalah menjadi sebaik-baik pribadi yg disukai-Nya. Hingga ia pantaskan kita utk mendapatkan jodoh terbaik menurut-Nya.

Krn bisa jadi kita menyukai sesuatu, padahal itu belum tentu yang terbaik. Sebaliknya, bisa jadi kita tak menyukai sesuatu padahal itu yg terbaik bagi kita.

Seperti yg di gambarkan-Nya pd QS Al-Baqarah ayat 216

Sumber : @DakwahHijab

______________________

Jgn lupa tuk bantu sebarkan yaa,
Moga Allah balas dgn pahala yg berlimpah,aamiin :)

Minggu, 18 Januari 2015

7 keajaiban dunia

Selamat siang, mari baca sejenak tulisan berikut
7 KEAJAIBAN DUNIA
Seorang guru memberikan tugas kepada siswa-siswanya untuk menuliskan 7 Keajaiban Dunia. Sebelum kelas usai, siang itu semua siswa diminta untuk mengumpulkan tugas mereka masing-masing. Seorang gadis kecil yang paling pendiam di kelas itu, mengumpulkan tugasnya paling akhir dengan ragu-ragu. Tak ada seorang pun yg memperhatikan hal itu.
Malamnya sang guru memeriksa tugas siswa-siswanya itu. Sebagian besar siswa menulis demikian:
Tujuh Keajaiban Dunia:
1. Piramida
2. Taj Mahal
3. Tembok Besar Cina
4. Ka'bah
5. Kuil Angkor Wat
6. Menara Eiffel
7. Kuil Parthenon
Lembar demi lembar memuat hal yang hampir sama. Beberapa perbedaan hanya terdapat pada urutan penulisan daftar tersebut, guru itu terus memeriksa sampai lembar yang
paling akhir. Tetapi saat memeriksa lembar yang paling akhir itu, sang guru terdiam. Lembar terakhir itu milik si gadis kecil pendiam.
Isinya seperti ini:
Tujuh Keajaiban Dunia adalah:
1. Bisa melihat
2. Bisa mendengar
3. Bisa menyentuh
4. Bisa disayangi
5. Bisa merasakan
6. Bisa tertawa, dan
7. Bisa mencintai
Setelah itu sang guru duduk diam beberapa saat, sang guru menutup lembaran tugas siswa2nya.
Kemudian menundukkan kepalanya dan berdoa. Mengucap syukur untuk gadis kecil pendiam di kelasnya, yang telah mengajarkannya sebuah pelajaran hebat. "Tidak perlu mencari sampai ke ujung bumi untuk menemukan keajaiban". Keajaiban itu ada di sekeliling kita untuk kita miliki dan ada di dalam diri Kita! Bersyukurlah atas semua yang kita sudah miliki hari ini, kita semua adalah keajaiban alam, bukankah kita adalah satu2nya (or the only One) sel sperma yang menyisihkan jutaan sel sperma yang lain dalam kandungan ibu kita?
Kita semua adalah pilihan dari yang terbaik di antara terbaik sejak dari dalam kandungan ibu kita, Subhanallah