Buat teteh-teteh dan aa’-aa’, yuk ah sudahi aktivitas merugikan di mana saja, khususnya di jejaring sosial. Sudahi komunikasi-komunikasi yang menimbulkan perasaan berbunga-bunga antar lawan jenis. Meski awal-awalnya hanya sekadar saling sapa, dengan niatan iseng. Bisa jadi, aktivitas tersebut malah menyeret teteh dan aa’ menuju jurang maksiat. Naudzubillahiminzalik.
Nggak ada salahnya, kita memliki banyak sosmed. Apalagi kalau kita bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang dalam hal kebaikan, dan menyeru pada jalan yang benar. Meski masih muda, nggak ada salahnya kan kita bercuap-cuap tentang pemahaman Islam? Ingat, sampaikanlah meski
hanya satu ayat.
Tapi, peringatan besar untuk kita semua. Ilmu
yang kita sebarkan di sosial media, jangan sampai diniatkan untuk eksistensi diri, atau yang lebih parahnya, mau pamer bahwa sekarang kita udah berubah jadi alim. Harus kita luruskan kembali niat kita, bahwa pos-pos kita yang berbau dakwah,
semata-mata untuk tabungan di akhirat, dan murni keikhlasan karena ingin meraih ridho Allah Ta’ala.
Tidak perlu takut cibiran-cibiran teman-teman kita yang negatif. Misalnya; “Ah, Lo kalo udah busuk, busuk aja sih…”, “Sok alim, Lo!”, dan lain sejenisnya. Apalagi, takut kalau followers menurun. Bro en Sis, untuk melakukan sebuah perubahan yang menyeru kepada kebaikan itu, akan banyak sekali rintangannya. Nah, yang mesti kita lakukan, cukup bersabar dan menyerahkan segalanya kepada Allah. Lebih baik lagi, kalau kita bisa memberikan pemahaman kepada mereka secara ma’ruf, bahwa kita memang sudah berubah menjadi lebih baik. In sya Allah, lama-lama mereka akan terbiasa dengan timeline-nya yang disesaki dengan postingan kita tentang kebenaran.
Untuk Mama dan Papa, yang dulunya hobi banget galau tentang rumah tangganya. Jangan lagi-lagi deh! Bagi orang tua yang melek komunikasi seperti ini, sip banget kalau kemampuannya ini dijadikan sebagai media dakwah. Banyak lho, ustadz wa ustadzah yang cuap-cuap tentang keislamannya di sosmed, meski mereka sudah berumur. Jangan mau kalah sama yang lebih muda, dalam urusan menyebarkan kebaikan di mana saja Mama dan Papa berada. Yuk, yang punya ortu super update, tapi masih hobi pos-pos yang kurang bermutu, kasih tahu deh supaya sosmednya bisa menjadi salah satu media, untuk mengisi tabungan di akhirat. Jangan sampai deh, kita menjadi salah seorang yang menyebarkan keburukan dan menjadikan orang lain terinspirasi dengan keburukan yang kita bagikan. Statusmu, Harimaumu. Roar!
Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Tentu saja kita sangat mengapresiasi saudara-saudari kita yang tengah turut andil dalam penggunaan sosial media, dengan baik dan benar. Apalagi, buat kakak-kakak yang menjadikan followers-nya sebagai ladang dakwah. Tepuk tangan! Prok prok prok prok prok…
Banyak kok, yang awalnya ia adalah remaja yang biasa-biasa saja, namun karena getol menyebarkan kebaikan di sosial media, akhirnya menjadi remaja yang luar biasa. Misalnya, yang tadi niatnya cuma sekadar bikin note di Facebook, dengan isi tulisan karya sendiri yang memberikan manfaat luar biasa di dalamnya, akhirnya dilirik penerbit untuk mengumpulkan tulisan-tulisannya, dan menjadikannya sebagai buku best sellers yang berisi kalimat-kalimat motivasi, kumpulan cerita pendek, kumpulan puisi, dan semacamnya.
Bisa juga nih, buat kamu-kamu yang hobinya nge-desain, oke banget kalau karya-karya desain kamu berisikan gambar atau tulisan yang menyeru kepada kebaikan. Tentu saja, harus sesuai dengan standar bagaimana desain islami yang diperbolehkan dalam Islam. Jangan sampai, karena banyaknya viewers , atau permintaan konsumen, malah menjadikan kamu mendesain makhluk hidup yang sangat mirip dengan aslinya. Meski pesan-pesan di dalamnya mengusung pada kebaikan, bisa jadi, karya kamu yang satu ini malah menghasilkan dosa. Kan bisa gawat.
Nah, buat Bro en Sis yang udah sukses di dunia dengan penghasilan yang dihasilkan dari karyanya sendiri, jangan sampai lupa juga dengan kehidupan akhiratnya ya. Jangan mentang-mentang berasumsi bahwa karyanya berbau
dakwah, jadi lupa bahwa ada kewajiban lain di luar dunia maya. Membantu orang tua, misalnya. Jangan sampai, karena keasyikan di depan gadget, jadi lupa dengan kewajibannya sebagai anak yang sholih wa sholihah. Lebih gawat lagi kalo sampai lupa bahwa punya kewajiban mendirikan sholat, menggali ilmu Islam lebih dalam, mengaji al-Quran, dan sebagai pelajar kita juga wajib belajar.
Yuk ah, kita tengok lagi jejaring sosial kita, sudahkah digunakan untuk menyebarkan kebaikan? Sudahkah memberi ‘nikmat’ atau justru malah menjadi ‘kiamat’ bagi diri kita sendiri dan orang lain? Jawabannya ada pada sikap kamu
setelah membaca tulisan ini.
Artikel : http://www.gaulislam.com/sosmed-nikmat-atau-kiamat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar