Sabtu, 13 September 2014

Makna dibalik Dua Mata, Dua Telinga, dan Satu Mulut (#1)

Mengapa Allah Swt. menciptakan dua telinga, dua mata dan satu mulut?
Pertannyaan itu memang terlihat sederhana tetapi memiliki hikmah yang luar biasa. Mari kita renungkan dua mata, dua telinga, dan satu mulut berarti dalam kehidupan sehari-hari, kita seharusnya banyak melihat dan banyak mendengar dibandingkan berbicara, 2:1. Sebelum kita berbicara, kit harus punya pemahaman atau pengetahuan yang benar mengenai suatu hal. Jika kita asal berbicara bisa memicu suatu masalah, baik saat ini maupun nanti.

Imam Abu Hatim bin Hibban al-Busti rahimahullah berkata dalam kitabnya Raudhatul 'Uqala, "Suatu hal yang wajib dilakukan oleh orang yang memiliki akal sehat ialah lebih banyak mempergunakan telinganya daripada mulutnya. Sehingga, ia sadar diciptakan untuknya dua buah telinga dan satu mulut, yaitu agar ia lebih banyak mendengar dari pada berbicara. Karena dengan banyak bicara, ia akan menyesal. Namun bila ia banyak diam, niscaya ia tidak akan menyesal. Sebab, menarik kembali sesuatu yang belum diucapkan lebih mudah dari pada menarik kembali perkataan yang telah diucapkan. Perkataan yang telah diucapkan akan selalu mengikutinya, sedangkan perkataan yang belum diucapkannya mampu mengendalikannya."

Terlalu banyak berbicara mengenai hal-hal yang tidak berguna adalah sebuah keburukan yang nyata. Keimanan kita tidak akan sempurna sebelum kita mampu menjaga lisan dari berbicara kotor dan tidak ada gunanya.

Jadi bicaralah seperlunya saja, jangan sampai mulut banyak bicara tapi nilainya nihil. Tidak punya arti apa-apa. Bahkan, bisa memicu malapetaka. Kalaupun seseorang pandai pengetahuannya, sepatutnya juga tidak berbicara berlebihan karena bisa terjerumus pada kesombongan.

Kita terkadang terburu-buru menyimpulkan suatu kejadian, kabar, dan fakta tanpa melihatnya secara utuh dan detail. Bisa jadi apa yang kita dengarkan hanya sepotong, dan belum seutuhnya. Dampaknya bisa sangat memungkinkan kita terjerumus pada penapsiran yang sepihak. Atau, justru anggapan kita mengenai suatu hal itu tidak seperti suatu hal yang kita kira lantaran tidak terserap dengan utuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar